Halo Halo, adminnya blog agregator IF2004, dan temen-temen pembaca setia, mau woroworo, gw ‘pindah rumah’ untuk sementara kesini :
http://akurupa.wordpress.com
biar lebih bebas belajar dan berupa dan berlalu begitu saja dari matamu, tetapi membekas dihatimu *aihhh*😀
mari silakan dinikmati

Beberapa kali saya bermasalah dengan ITB, selalu dengan parkir. Parkir di sekitar ITB itu terkenal mahal.. Tapi untuk case kita mau ke ITB aja. Kalo parkir di deket situ untuk makan, fotocopy, ato ketempat teman, tarif parkirnya berbeda. Aneh? Memang.

Lalu bagaimana dengan ITB nya sendiri? Entah sebenarnya siapa pelanggan utama ITB, saya bingung. Makin bingung, apakah ini tempat menuntut ilmu atau mencari nafkah. Atau kedua-duanya? Lalu siapa yang lebih diutamakan? Makin membingungkan. karena sistem tanda di ITB lebih seperti sistem tanda di pabrik atau lokasi proyek ketimbang sebuah kampus. Mungkin supaya mahasiswa terbiasa dengan lingkungan kerja?!? Back to sistem tanda. Sistem tanda di ITB dan papan-papan peringatan lebih diutamakan untuk keselamatan kerja (?!) Padahal saya kira orang ke ITB untuk belajar. Bukannya utamanya untuk kenyamanan belajar ya?? Ah mungkin saya sok tahu. Mungkin ITB itu emang pabrik sbenernya kali ya.

Kenapa saya bisa berfikir demikian?? Setiap kali saya ke ITB sebagai mahasiswa, hal paling pertama yang saya alami, kesulitan mencari parkir. Kendaraan mahasiswa dilarang masuk ke kampus ITB. Berbeda ketika saya datang sebagai teman seorang dosen, bebas keluar masuk kampus ITB dengan kendaraan saya. Dosen ITB? Pegawai ITB? Demikian juga. Merasa aneh jadinya. Saya kira fasilitas ITB diutamakan untuk kenyamanan mahasiswa. Eh tapi jadi ingat sebuah alasan kenapa kendaraan mahasiswa ga boleh masuk kampus. Katanya si untuk mengurangi polusi, supaya mahasiswa ketika belajar tidak terganggu oleh polusi udara maupun suara. Masa sih? Memang kendaraan dosen dan pegawai serta tamu ga bikin polusi ya? Eh dijawab lagi. Katanya, itukan untuk kelancaran kegiatan belajar mengajar di ITB, dosen cepat menuju gedung kuliah begitu pula pegawai lainnya. Eh tapi kalo mahasiswanya kesulitan masuk ke kampus ya sama aja dong. Kegiatan belajar mengajarnya ga bisa mulai. Kalo udah begini, yang rugi siapa? Saya sih sebagai orang yang bayar ke ITB, selain dapat ilmu, (yang mana uang saya yang sampe ke dosen ga sebanyak itu juga) ingin juga menikmati fasilitas yang disediakan. Ato uang saya ini cuma untuk bayar dosen mengajar? Bayar kursi sama papan tulis sama laptop sama proyektornya doang gt?

Ah saya si belajar pake papan tulis sama kapur juga gpp kok. Mau pinjem laptop saya untuk dosen saya mengajar juga boleh. Yang paling penting kan saya gampang dapet parkir dan deket gedung kuliah jadi ga telat masuk kelas kaya sekarang ini. Kan rugi ketinggalan kuliah..😦

Menanggapi serunya kontroversi twitter tentang @tifsembiring dan BB RIM Service, gw jadi ingin menulis surat terbuka untuk beliau. Begini kira-kira isinya :

Kepada, Yth Bapak Menkominfo RI, Tifatul Sembiring
di tempat

Salam,
Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri, pemilik blog ini, dan account twitter @rockercoaster, seseorang yang tidak mempunyai kapabilitas di bidang IT seperti Bapak. Namun begitu saya mengerti sedikit mengenai dunia IT, karena kebetulan saya lulusan S1 Teknik Informatika sebuah universitas di indonesia.

Melalui surat ini, saya ingin menanggapi kebijakan Bapak mengenai permasalahan RIM yang tidak mau konten nya di dekripsi agar bisa disaring (disensor!?) oleh Menkominfo terutama mengenai konten-konten yang berbau pornografi (bukan begitu kira-kira permasalahannya?). Ini sangat beralasan, karena pengguna BB jadi dengan mudah membuka situs porno (ini bukan sih permasalahan utamanya?, kalo dari temen-temen di twitter sih kira-kira begitu). Saya setuju bahwa Rakyat Indonesia harus dibatasi dari hal-hal yang berbau pornografi. Saya sangat setuju dengan hal tersebut.

Hanya saja, ada sedikit hal yang menjadi permasalahan dalam benak saya. Kita analogikan begini, internet adalah kumpulan DVD, ada film, ada berita, dll. Setiap pembuat film, berita, dokumenter, atau apapun konten dalam DVD tersebut adalah pemilik situs/web. Setiap produsen DVD player seperti Sony, Samsung, dll adalah penyedia jasa internet (telkomsel flash, IM2, speedy, RIM, dll). Mana yang harus diberantas jika ingin menghentikan penyebaran video porno melalui DVD, apakah produsen DVD atau pembuat film?
Semua, termasuk Bapak, mungkin setuju dengan saya, yang harus dihentikan adalah pembuat film, atau penyedia konten, pemilik situs. Bukan menjadi kewajiban produsen DVD harus bisa membedakan DVD porno atau bukan dan memblokir DVD nya. Lebih baik lagi, menurut saya, yang harus dibenahi ya yang nontonnya. Rakyat Indonesia nya dalam hal ini. Karena kalau moralnya belum bener, ya bagaimanapun caranya, DVD porno pasti bisa didapat, bisa ditonton. Situs porno pasti bisa dibuka.

ini serius loh pak, karena pembatasan konten melalui penyedia jasa internet itu percuma. Hal ini saya buktikan sendiri. Saya (jujur saja) mencoba membuka beberapa situs porno yang diblokir oleh penyedia jasa internet tersebut, dan ternyata terbuka begitu saja hanya dengan cara yang sangat mudah. Dan saya rasa, banyak orang yang bisa melakukannya kok. Karena tidak harus memiliki pengetahuan yang tinggi. Asalkan dapat membuka google, ataupun website lainnya, pasti bisa membuka situs-situs tersebut. Siapa yang disalahkan? penyedia jasa internet kah? mereka udah menuruti peraturan kok dengan memblokir situs-situs tersebut dan ‘memantau’ apa saja yang diakses pengguna internet yang jadi pelanggan mereka. Dan yang jelas itu menurut saya sudah melanggar privasi.

Sekian dari saya. Semoga menjadi masukan.
Terimakasih.