Archives for category: popotoan

Setelah perjalanan panjang tentang pencarian minat hidup gw,
pada akhirnya gw kembali ke minat awal gw, yang emang udah ada dari sejak kecil, SENI.
dari kecil, gw tertarik sama bidang seni, desain, dan sesuatu yang bersifat kreatif, apapun bentuknya.
*ga akan cerita lebih panjang tentang ini*
singkat cerita, setelah mencoba berbagai bidang, pada akhirnya gw memutuskan jalan untuk berkarya di bidang ini, singkatnya gw mendalami fotografi, sebagai salah satu tools desain, sebagai salah satu bentuk apresiasi seni.

Gw emang belum lama belajar fotografi secara serius, tapi waktu gw inget2 apa aja sih yang udah gw pelajari, ternyata gw udah belajar banyak hal dari banyak sekali hal yang masih harus gw pelajari. dan selama itu, sebanyak itu, gw udah banyak berguru baik secara langsung maupun tidak langsung, lewat berbagai media, dari mulai tatap muka langsung, secara formal maupun nonformal, sampai berbagai literatur, seperti buku, majalah, ebook, web, ataupun hasil foto orang2.

Dari sekian banyak itu, gw me-list beberapa orang yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi guru dan sekaligus sumber inspirasi inspirasi gw.
1. Orang pertama dalam list gw adalah dosen fotografi DKV ITB, Pak Dody Sagir. Beliau orang yang pertama mengenalkan gw dengan kamera slr. orang yang pertama kali mengenalkan gw dengan hal2 teknis fotografi. Orang yang meminjamkan kameranya (ato kamera dkv ya, tapi dia yang ngasi pokonya :D ) sehingga gw berkenalan dengan slr.
2. Orang kedua dalam list gw, melengkapi pelajaran teknis fotografi dasar gw, Pak Budhi Ipoeng. Gw belajar banyak hal, dari hal2 dasar sampai yang lebih advance sedikit, tentang basic lighting, tentang fotografi studio, tentang bagaimana bersikap sebagai fotografer, tentang bagaimana menjadi fotografer hebat, teknis maupun non teknis. Hal terbesar tentang teknis yang gw pelajari dari beliau adalah, bahwa sesungguhnya lampu studio itu memodelkan cahaya alami yang ada di alam, jadi ketika kita memotret di luar ruangan, jangan lupakan semua hal tentang cahaya di studio, jenis2nya, arahnya, bentuknya, sampai sifatnya.
Dengan bekal yang diberikan beliau, gw banyak belajar dari halhal kecil, bahkan dari cover majalah sekalipun.
3. dan 4. Guru gw yang ketiga, yaitu Pak Alfonzo dan yang keempat, Pak Hendy. Mereka berdua dalam kuliahnya mengajarkan tentang konsep foto. Tentang mengkomunikasikan foto. Tentang, bagaimana membuat foto kita berbicara. Hal yang gw ingat adalah, bahwa ketika lo hendak motret, lo harus tau lo mau memotret apa, bukan lo membawa kamera dan mencari apa yang bisa lo foto, tetapi memikirkan apa yang ingin lo foto dan berangkat dengan kamera, dalam situasi apapun, dalam fotografi apapun, subjektif maupun objektif. Pelajaran yang gw dapet dari mereka, tergambar jelas dari hasil foto2nya kang Jerry Aurum. Menurut gw representatif dari pelajaran yang gw dapet dari kedua dosen ini adalah hasil foto2nya Kang Jerry Aurum. Berkonsep, menceritakan sesuatu, memiliki “feel”, tidak sekedar foto-foto indah dan cantik.
5. Selanjutnya, fotografer yang gw anggap sebagai guru adalah Pak Kayus Mulya fotografer spesialis mobil. Gw belajar dari sebuah kalimat yang beliau lontarkan dalam sebuah seminar yang gw ikuti. Beliau pernah berkata *kurang lebih* “Seorang fotografer harus bisa membuat siang menjadi malam dan malam menjadi siang.” Gw memikirkan kalimat tersebut, sampai beberapa bulan kemudian gw menemukan maksudnya, dan membuktikan kalau fotografer sejati adalah seorang pelukis cahaya, ah bukan, penyihir cahaya. ;)
6. Yang keenam, yaitu seorang fotografer dari magelang. Fotografer spesialis candi, yang bertempattinggal di sekitar candi borobudur, pak Soeparno. Kalimat beliau yang akan selalu gw ingat adalah “apapun kondisinya, jangan berhenti untuk mendapat foto yang maksimal.” Ketika itu, gw yang selalu memanfaatkan cahaya matahari untuk foto diluar ruangan, tersentuh. Beliau mengajarkan, bahwa dalam kondisi cahaya paling flat, yaitu saat matahari tertutup awan mendung lo masi bisa mengakali bagaimana menghasilkan gradasi cahaya, dll. Sejak saat itu gw berfikir lebih keras untuk menghasilkan foto yang maksimal dalam kondisi apapun.
7. dan 8. duo fotografer wedding internasional yang super canggih. Gw ga pernah ktemu langsung sama kedua orang ini, tapi gw belajar banyak tentang komposisi foto dari hasil foto2nya. Gw dapet banyak inspirasi dari foto2nya. Ray dan Erwin Apertura. fotografer hebat yang komposisi foto-fotonya menakjubkan, membingungkan, dan berbeda dari komposisi pada umumnya.

Selain yang gw ceritakan diatas sebenernya masi banyak fotografer yang menginspirasi gw, yang memberikan macam2 pelajaran berharga untuk gw. Masi banyak juga hal2 tentang fotografi yang belum gw tau. Masi banyak yang ingin gw pelajari.
But after all, thanks for all of you for being my teacher and my inspiration.
gw akan selalu berusaha menghasilkan foto terbaik, yang gw dedikasikan untuk kalian.

Baru beli diana+ dan instant back, pas mau motret mikir dulu,
gimana kalo ntar underexpose ato overexpose, kan instant jadi ga bisa dibenerin di kamar gelap kaya pake slide ato negative.
akhirnya cari tau dulu settingan aperture dan shutterspeed supaya bisa menghasilkan foto yang lumayan baguss :D

setelah mutermuter google dan flickr, akhirnya nemu ini di sini :
“Cloud” setting: f/11
“Partial Sun” setting: f/16
“Sun” setting: f/22
“Pinhole” setting: f/150

For the shutter speed, “N” is approximately equal to 1/60 second.

tambahan, untuk pengguna instant back, fujifilm instax mini ISO nya 800, tapi kalo pake instantback diaksi innerlens untuk nurunin 1 stop, jadi berasa pake ISO 400.

Memang sih, menyalahi spirit lomografi, dong think just shoot.
Tapi daripada buangbuang beberapa lembar foto untuk bisa tau setting yang pas, mending cari tau settingnya aja biar bisa membayangkan pake setting apa untuk suasana kaya apa.
Akan sangat berguna untuk pengguna instant back soalnya jadi butuh precise setting, karna instantfilm ga diolah dikamar gelap lagi, langsung keluar dari kamera dan langsung jadi.

Niat lurusnya dari Bandung ke Jakarta adalah ketemu Rangga. Rangga adalah teman yang gue kenal dari Ika. Baik hati, tidak sombong, suka berbagi dan udah punya pacarrr, :)
Jangan dikira gue akan mempromosikan seorang jomblowan ya.

Oke, lanjut. Sampailah gue di Taman Anggrek, tempat yang dijanjikan, untuk ketemu Rangga. Jumat (30/07) waktu itu. Mall Taman Anggrek seperti nggak kenal waktu kerja. Rame banget. Lihat punya lihat ternyata emang lagi ada acara di sana. Dan Rangga lagi ngendon di sana untuk ikutan nonton acara tersebut: WSOP alias World Series Of Pool oleh Guinness Indonesia. Sebuah Turnamen Billyar kelas dunia yang diselenggarain sama Guinness. Rangga menjelaskan, kalau ini adalah event road to final dan grand finalnya, one of the biggest event oleh Guinness.

Dipikir-pikir, gue belum pernah nih motretin atlet. So, keluar juga deh kamera dari sarangnya, dan menjepret satu, dua, eh, banyak. Kebetulan Guinness buka Photo Competition juga, jadi setiap hasil jepretan gue submit juga ke sana.

Jujur, gue bukan penggemar billyar. Main billyar bisa dihitung jari sama teman-teman, biasanya kalau nunggu room karaoke kosong, gue dan teman-teman mengisi waktu main billyar. Pertandingan billiard yang pernah gue tonton paling pertandingan billyar di TV kabel, itupun juga cuma ikut-ikutan nonton. Alhasil, awalnya gue emang lebih fokus motret, lama-lama jadi merhatiin juga pertandingannya. Jadi ceritanya pertandingan ini udah disiapin dari lama, tim Guinness Indonesia udah road keliling 13 kota di Nusantara buat hunting nyari atlet nusantara terkeren untuk disandingkan sama atlet luar negeri. Dan event yang gue tonton sekarang adalah ultimate-nya pertandingan dimana jago-jagonya bertemu di Poll dan mainin bola 10.

Hal yang menarik dari Guinness World Series of Pools, event ini dirancang supaya bisa dinikmati oleh penggemar maupun bukan penggemar billyar. Di grand final tadi contohnya, selain nonton pertandingan, ada banyak aktivitas-aktivitas seru yang bisa dilakukan oleh pengunjung. Salah satunya , Guinness Pool Fun Area yang isinya macam-macam meja billiard dengan bentuk yang lucu-lucu. Asyik loh ngelihat pengunjung dan pemain yang heboh mencoba berbagai meja itu. Nggak heran kalau grand final Guinness World Series of Pools yang diselenggarakan dari tanggal 29 Juli sampai 1 Agustus 2010, selalu dipadati pengunjung.

Dua hari gue nongkrong di sana, seru juga. Bikin kenal sama Ricky Yang, muter-muter Taman Anggrek, ketemu Rangga dapet, enjoy he venue juga dapet. Bola warna-warni, pemain yang penuh konsentrasi, gerakan yang dramatis, ekspresi tegang penonton, saat-saat kemenangan, wajah gembira pengunjung. Thanks to Guinness dan World Series Pool-nya!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.