inilah dia kisah beberapa anak autis dan nerd dari informatics engineering ITB 2004..
alkisah pada suatu siang yang cerah, autis #1 bertemu dengan autis #2 dan autis #3. Lalu autis #3 mengajak autis #1 untuk berautis ria (baca : jalan-jalan ga jelas). Tanpa disadari, jauh hari sebelumnya, autis #2 pernah mengajak autis #1 melihat citylight dari atas bukit..
Autis #1 berfikir, “hmm, inilah dia saatnya untuk menjebak para autis kedalam pesta autis 2008, HAHAHAHA”
akhirnya, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Yaitu pada malam harinya…
Autis #1, autis #2, dan autis #3 bertemu dan berkumpul.. Eh ternyata ada autis #4 juga disitu. Malu-malu, tapi tampak tertarik untuk ikut. hmm, sudah ada 4 orang. Para autis berfikir, kayanya kalo ber-6 baru kita boleh berangkat. Tapi ngomong-ngomong knapa harus ber-6? hmm, tidak ada yang tau, hanya keempat autis itu sajalah mungkin yang tau. Akhirnya mereka mengajak serta autis #5 dan autis #6. Akhirnya lengkaplah sudah 6 autis yang nerd ini berkumpul. Setelah perbekalan disiapkan, akhirnya sekitar pukul 11.00 malam, hari jumat 15 februari 2008, mereka berangkat menempuh perjalanan yang mungkin merupakan perjalanan terbesar dalam hidupnya (sejauh ini) demi membuktikan keautisan mereka.

Berangkat dari bandung, 6 autis ini berjalan kearah selatan. Tepatnya kearah Pangalengan. Itu loh, tempat yang terkenal dengan susu murni dan segala produknyah.. Dalam perjalanan menuju ke pangalengan inilah, para autis menemukan spot untuk melihat citylight. Akhirnya mereka tidak tahan lagi, lalu berfotolah mereka disana.
Dari pangalengan, mereka mengambil jalan ke Situ Cileunca, sebuah danau didaerah sono. Menelusuri jalan kecil ini, mereka berjalan terus, terus, dan teeeerussss….. Dikanan kiri, mereka melihat perkebunan teh. Trus ternyata ada villa jaman belanda gitu, kayanya milik meneer belanda yang meneliti teh didaerah situ (sok tau) trus ada juga komplek rumah jaman dulu, mungkin itu komplek rumah para petani teh didaerah situ. Daerah ini tepatnya bernama Cukul (Eit, bukan cukul arwana tapi). Terus dan terus, akhirnya mereka menemukan perbatasan daerah Kabupaten Bandung dengan Kabupaten Garut.
Memasuki kawasan garut, jalan mulai menurun, vegetasi pun berubah. Dari tanaman teh, menjadi hutan… yap, hutan tropis. Entah apakah hutan ini sudah terjamah manusia atau belum sama sekali. Jalan yang mereka lalui pun sempit, dan semakin rusak, walaupun masih dalam batas toleransi mobil yang mereka kendarai. Di tengah hutan, para autis ini menyempatkan diri untuk berhenti, dan menikmati udara malam sejenak, lalu melanjutkan kembali perjalanannya.
Hampir frustasi dengan hutan, akhirnya mereka menemukan perkampungan. Setelah ditelaah kembali, ternyata daerah itu bernama Cisewu. “Hmm, dimana ini… ? ” Pikir mereka. Terus melanjutkan perjalanan, dan cukup frustasi dengan jalanan yang makin jelek aja, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah, yang entah bagaimana, penghuninya sedang berada didepan. Akhirnya mereka bertanya…
Begini kurang lebih percakapan mereka :
Autis #1 : Punten Ibu, bade tumaros (permisi bu, mau bertanya)
(Bahasa orang normal : Permisi bu, boleh tanya?)
Ibu : Mangga Den, aya naon? (Silahkan, ada apa?)
(Bahasa orang normal : ya, ada apa chuy?)
Autis #1 : Upami Ibu gaduh sisiuk? Abdi bade nambut! (Apakah ibu punya gayung? saya mau pinjam)
(Bahasa orang normal : Apa ibu tau, lewat jalan ini bisa kegarut ngga?)
Ibu : Aya Den, kanggo naon? (ada, untuk apa?)
(Bahasa orang normal : Oh bisa, lurus aja terus, ntar kearah bungbulang, trus kegarut deh)
Autis #1 : Ieu, kanggo ngaleueut ci enteh.. (Ini, buat minum air teh)
(Bahasa orang normal : ah serius lo? tankyu atuh)
Ibu : Ohhh, Ieu atuh, mangga… (oh, ini silahkan)
(Bahasa orang normal : ya iya lah, masa ya iya dong… sama-sama, hati-hati ya GANTENG!!)
Begitulah, dan akhirnya perjalanan mereka pun berlanjut. Memasuki daerah yang agak terang (banyak rumah penduduknya gitu) Mereka menemukan percabangan. Bingung harus memilih antara belok kanan atau kiri, akhirnya Autis #6 mengeluarkan salah satu ability-nya, yaitu menebak arah menggunakan sendal jepit. Akhirnya dilemparlah sendalnya setinggi-tingginya. Setelah jatuh kepermukaan tanah, ternyata sendal tersebut menghadap ke kiri, akhirnya mereka pun berbelok kekiri, menelusuri jalan yang entah benar atau tidak.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 pagi, para autis pun sudah mengantuk. Ahirnya para autis genap (2, 4, 6) pun tertidur. Tinggallah para autis ganjil ini, yang konon katanya memang lebih tahan kantuk. Akhirnya para autis itu melihat sebuah plang PLN, waw, keren sekali, di tengah perkampungan yang sangat jauh dari peradaban kota besar seperti tokyo ini ada juga ya PLN. Selidik punya selidik, hmmm Heh? ternyata masih di daerah Cisewu, waw mejik ya…

Tidak putus asa, para autis terus melanjutkan perjalanan. Sampailah, didaerah baru bernama Bungbulang, mulai lelah, lapar, eh ingin ke WC… duh, sulitnya mencari WC di daerah seperti ini. Hmm, tidak habis pikir, mereka pun mencari mesjid. Akhirnya masuklah ke sebuah mesjid yang cukup aneh, entahlah, pokoknya aneh, dan lumayan seram. Autis #2 ke WC, autis #1 menemani, sambil mencari WC, membuka pagar, membawa HP, sebagai penerangan, karena disana memang gerap gurita sekari. Menunggu Autis #2 yang sedang melakukan ritual ber-WC nya, walaupun tanpa pintu tapi masih terhalang tembok, Autis #1 menunggu dengan setia (baca : terpaksa) dalam gelap, karena HP nya dipinjem autis #2.
Selesai dengan ritual ber WC, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Mencari mesjid yang lebih ‘waras’ untuk shalat subuh. Karena para autis ini, walaupun autis, tapi masih ingat kepada Tuhan. Setelah shalat subuh dan istirahat sejenak, mereka melanjutkan perjalanan. Perjalanan kali ini, menanjak, menuju dataran yang lebih tinggi, dengan persediaan bensin yang kian menipis. Akhirnya tibalah sang surya eksis di ufuk timur, walaupun terhalang awan, tetapi cahayanya sampai kemari. WAW!!!! pemandangannya indah ternyata.
Dan sayup-sayup (sedikit-sedikit maksudnya) kebun-kebun teh mulai terlihat lagi. Diantara kebun-kebun teh ternyata ada juga gardu listrik besar, WAW, takjub lah mereka..
Akhirnya kita memutuskan untuk berhenti disalah satu tempat disitu, tepatnya didepan pintu masuk ke salah satu PTP Nusantara VIII, tepatnya pintu masuk ke Kebun Papandayan, sebuah perkebunan teh di kaki gunung Papandayan.
Disana tidak lupa, menggoda para Ibu-ibu gaol pemetik daun teh (baca : petani teh) dan juga menongkrong di warung dekat situ, menikmati jajanan kampung yang hmmmm PAPAPIA LEZATOZ!
Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan, sempet mampir sebentar mau masuk ke lokasi pariwisata Curug Orok. Parkir mubil, lalu jalan diantara tanaman teh. Jauh juga ternyata, akhirnya mereka menyerah, dan kembali kemubil, tidak lupa poto2… Oh ya, dari sana, mereka dapat melihat indahnya gunung papandayan, WAW MEJIK!!
Setelah (sangat kurang) puas dengan kunjungan (yang tidak jadi) ke Curug Orok, mereka melanjutkan perjalanan, yang entah masih sejauh apa. Tetapi dari sini mereka mulai menemukan titik cerah. Matahari mulai bersinar tinggi. Hmm, bukan itu, jalan yang mereka lewati semakin besar, ramai, dan lebih bagus. Akhirnya sampailah mereka didaerah yang bernama Cikajang, sebuah daerah yang berada di selatan kota garut. Dari sini, jalan yang mereka lalui adalah jalan raya seperti pada umumnya, diaspal halus.
Akhirnya semangat yang tadi sirna dan perlahan-lahan muncul kembali, sekarang jadi menggebu-gebu.. perjalanan dilanjutkan ke kota garut. Disana mereka berputar-putar kota garut, menyasar-nyasar, mengeceng-ngeceng cewe garut dan juga pak polisi garut yang aduhai, sampai akhirnya berhenti di sebuah perempatan, dimana disitu ada duo ibu penjual serabi. Serabi yang disini namanya surabi. Ada tiga pilihan rasa yaitu polos, oncom, dan abon. Akhirnya mereka makan dulu deh.. Hmmm, enak katanya..
Setelah puas santap surabi, mereka melanjutkan perjalanan pulang menuju Bandung. Diperjalanan pulang, Autis #1 sempet tidur, mengigau pula, seperti ini : “hoi Autis #2, gw mengigau ni hauhauhuahua”, menyetir pula. Sungguh Autis luarbiasa.. setelah semua autis merasakan tidur, tempo perjalanan kembali dinaikkan, untuk mencapai hasil yang maksimal.
Akhirnya, pada pukul setengah 10 pagi, para autis ini kembali juga ke kampus tercinta mereka. Dan autis #1 berkata dalam hatinya “Waw, ternyata nyampe juga, gw kira kita bakal nyasar entah kemana!” lalu berkata kepada yang lain : “Kapan kita jalan lagi? kemana ntar?” dengan senyumnya sperti ini
Perjalanan mereka, kalau mau dilihat pake peta ini, kurang lebih seperti ini :
Bandung -> Dayeuh Kolot -> Banjaran -> Cimaung -> Pangalengan -> Talegong -> Cisewu (yang tertutup gambar) -> Sukarame -> Sumadra -> Cikajang -> Garut -> Leles -> Kadungora -> Nagrek -> Cicalengka -> Bj. Loa -> Cileunyi -> Bandung..
Btw, dalam perjalanan ini, kendaraan yang mereka gunakan, B, beberapa kali menghantam jalan, karena jalan yang terlalu tinggi, dan kecepatan yang cukup tinggi pula, mengingat mereka harus cepat kembali ke bandung. setelah ditelaah, ternyata mengalami beberapa cidera walaupun tidak serius..